Karena itu, timpalnya lagi, penting untuk melatih (exercise) pikiran bawah sadar. Bagian pikiran terbesar ini perlu dibentuk agar senantiasa mengarah ke arah positif. Growth mindset ada pada dimensi tersebut.
“Pikiran bawah sadar punya dimensi negatif dan positif. Untuk sampai pada kualitas growth mindset, pikiran bawah sadar perlu ada di dimensi positifnya. Karena itulah, seperti dikatakan Prof Arif Satria, growth mindset bisa dibentuk,” ungkapnya.
Sementara, Dr. Taufik Fedrik Pasiak dalam paparannya mengutarakan satu fakta penting terkait pikiran manusia. Yaitu bahwa pikiran manusia senantiasa berubah. Hal ini dibuktikan dengan perubahan cara hidup manusia dari waktu ke waktu.
“Sarang burung atau sarang semut misalnya, selalu begitu sejak awal sampai sekarang. Berbeda dengan manusia. Cara hidup manusia berubah dari waktu ke waktu. Hal ini membuktikan perubahan pikiran manusia,” jelasnya.
Neuro-science, lanjutnya, mempelajari pikiran manusia. Diskursusnya bukan sesuatu yang baru, sebab sudah ramai diperbincangkan sejak era 90-an. Meski begitu, perkembangan neuro-science terus berkembang sampai sekarang.
“Terakhir, kita mendengar soal perangkat chip yang dipasang di otak manusia. Dalam salahsatu kasus, chip ensiklopedia yang ditanam di otak manusia menjadikannya mampu menghapal ensiklopedia tersebut tanpa belajar. Terlepas dari perdebatan yang meliputinya, hal ini adalah temuan yang akan punya manfaat besar di masa depan,” ungkapnya.
Masih dalam paparannya, perkembangan neuro-science juga hadir pada teknologi Virtual Reality (VR) yang berkaitan dengan kemampuan visualisasi manusia. VR membantu proses pembelajaran manusia meskipun tidak dalam bentuk fisik.
“Kemampuan pikiran manusia salahsatunya adalah visualisasi. Otak ternyata merespon sama, baik itu pengalaman fisik maupun visual. Karena itu, VR membantu pembelajaran manusia dalam bentuk citra visual. Contoh, ketika belajar soal organ manusia, prosesnya dapat dilakukan dengan VR tanpa harus menghadapi fisik organ sesungguhnya,” katanya.
Untuk sampai pada cita-cita Indonesia 2045, maka penting untuk membangun pikiran yang sejalan.
“Pemimpin mesti punya growth-mindset yang menggerakkan ummat pada kerangka nalar yang sama,” pungkasnya. (Red)




