Teropongistana.com Jakarta – Gangguan keamanan dan stabilitas negara menjelang pemilu 2024 masih menjadi isu dan kekhawatiran yang luas di masyarakat. Namun menurut pandangan dari Stanislaus Riyanta, pengamat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia saat ini masih terlalu dini untuk bisa memberikan prediksi terhadap situasi keamanan karena masih belum ditentukan siapa pasangan capres dan cawapres yang akan maju dalam kontestasi.

“Saya kira tergantung dari calon presiden dan wakil presidennya, siapa kontestannya, jumlahnya berapa pasang. Ini berpengaruh terhadap situasinya. Jadi kalau ada orang memprediksi pasti ini, pasti ini. Itu terlalu terburu-buru.” ujarnya mengawali pandangannya saat ditemui di Jakarta, Jum’at (23/6).

Dosen di Sekolah Kajian Strategis dan Global- Universitas Indonesia ini lalu menambahkan bahwa apabila sudah muncul jelas perihal figur calon dan latar belakang partai serta siapa massa dibelakangnya, maka hal tersebut bisa menjadi indikator-indikator untuk memprediksi situasi politik dan keamanan nantinya.

Iklan

Pria asal Jawa Tengah ini menyatakan bahwa potensi ancaman keamanan bisa lebih besar apabila nantinya bila hanya ada dua pasang calon yang masing-masing mewakili mahzab politik yang berbeda. Hal ini akan memperbesar polarisasi di masyarakat yang dapat berkembang menjadi konflik.

“Kita bisa berasumsi bahwa situasi akan sangat tidak enak ketika akan hanya ada dua pasang calon yang masing-masing mewakili dua aliran politik atau dua latar belakang pendukung yang berbeda, misal satu kelompok nasionalis yang maju dan yang satu kelompok agamis, atau satu pasangan calon mewakili pemerintah berkuasa saat ini dan satunya lagi mewakili oposisi. Wah ini ramai ini, bisa berbahaya.” ujarnya.

Tetapi bagi lulusan Kajian Stratejik Intelijen UI ini meyakini bahwa pemerintah sudah bisa membaca situasi mana yang berbahaya bagi keamanan negara serta menyiapkan upaya-upaya untuk mencegah dan mengatasinya.