Selain itu, dengan adanya perlawanan dari China terkait tarif, Amerika Serikat bisa saja mem-‘blokir’ keberadaan mahasiswa China dari akses pendidikan di kampus-kampus ternama Amerika Serikat Atau menaikkan pajak bagi para pendatang China di daratan Amerika, usaha-usaha di Chinatown yang tersebar di Manhattan, San Franssisco, Boston, Chicago dan kota besar lainnya akan dipersulit. Bahkan tak tertutup kemungkinan, ladang usaha yang dikuasai China bakal di take over pemerintah federal.
Yang terburuk, bisa saja warga China akan didorong untuk keluar dari Amerika Serikat, hingga pelarangan hubungan antara warga Amerika dengan China. Bisa juga, Amerika Serikat dan China saling menarik duta besar mereka.

“Amerika itu tidak main-main, buktinya, pabrik iPhone sudah dipindahkan dari China ke India. Itu nilai investasinya Rp3.850 triliun. Belum lagi jika diperhitungkan dengan tenaga kerja yang akhirnya harus berakhir masa kerjanya karena penutupan pabrik tersebut,” ujarnya lagi
Belum lagi, jika Amerika memutuskan untuk memindahkan pabrik produk Levis, GAP, New Balance, American Eagle, ZARA ke India, Vietnam atau Korea Selatan atau Taiwan.
“Kalau itu terjadi, China bakal rugi besar,” pungkasnya.
Sebagai informasi, setelah Amerika Serikat mengenakan tarif impor sebesar 145 persen untuk barang asal China dan dibalas dengan tarif 125 persen, kini Washington mengancam Beijing dengan tarif hingga 245 persen. Hal itu tertuang dalam lembar fakta yang dirilis Gedung Putih, Selasa (15/4/2025) waktu setempat.

“China kini menghadapi tarif hingga 245 persen atas impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan pembalasannya,” dikutip dari pernyataan tertulis Gedung Putih.
Sebelumnya, China selalu membalas tarif tinggi yang diberlakukan oleh AS. Terakhir, China memberlakukan tarif sebesar 125 persen.

Namun, setelah mengumumkan hal tersebut, China menyatakan tidak akan bertindak lebih jauh terkait peningkatan tarif.
Adapun Presiden AS Donald Trump saat ini tengah menangguhkan tarif resiprokal selama 90 hari, kecuali untuk China untuk memberikan waktu negosiasi. Sejauh ini sudah lebih dari 75 negara yang ‘antre’ untuk bernegosiasi dengan AS.




