Namun momen paling ditunggu-tunggu datang siang hari—saat Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi hadir. Sosok yang akrab disapa Kang Dedi ini disambut meriah oleh para santri, pengurus Fatayat NU, dan ribuan hadirin. Gaya khasnya yang santai dan membumi langsung mencairkan suasana.
Dalam sambutannya, Kang Dedi menekankan pentingnya peran pesantren dan perempuan dalam menjaga bumi. “Pesantren bukan cuma tempat ngaji, tapi benteng moral yang harus turun tangan menyelamatkan lingkungan. Dan kiai, bagi saya, bukan cuma guru agama—tapi penjaga bumi,” tegas Dedi disambut riuh tepuk tangan.

KH. Maman Imanulhaq, pimpinan Ponpes Al-Mizan, menegaskan bahwa pesantren ekologi bukan tren sesaat. “Mencintai bumi adalah bagian dari keimanan. Kami ajarkan santri bahwa menebang pohon sembarangan itu kezaliman, dan buang sampah sembarangan itu dosa,” ujarnya lantang.
Acara ini juga dihadiri para tokoh nasional dan daerah, termasuk Direktur Urusan Agama Islam Kemenag RI Dr. H. Arsad Hidayat, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Maino Dwi Hartono, dan Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman.

Bupati Eman menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan acara yang dinilainya sukses memadukan spiritualitas, budaya, dan semangat perubahan. “Fatayat NU dan Ponpes Al-Mizan menunjukkan bahwa pembangunan tak melulu soal infrastruktur. Ketika masyarakat, perempuan, dan pesantren bersatu, Majalengka tumbuh bukan cuma secara fisik, tapi juga rohani dan sosial,” ujar Bupati.


