2. Bagaimana membantu pasien dalam proses pengobatan dengan metode yang lebih efektif.
3. Upaya mencegah kekambuhan kanker melalui rehabilitasi dan perawatan pasca-terapi.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah metode pengobatan minimal invasif, yakni penanganan medis tanpa pembedahan besar, sehingga risiko pasien lebih kecil dan proses pemulihan lebih cepat. Namun, Xu mengingatkan bahwa pencegahan kekambuhan adalah kunci yang tidak boleh diabaikan.
“Rehabilitasi kanker sangat penting setelah operasi atau terapi. Angka kekambuhan cukup tinggi, sehingga pasien perlu terus didampingi agar kualitas hidupnya terjaga,” jelasnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. Yeni Thamrin, MHA, yang menambahkan bahwa berdasarkan catatan kasus di Indonesia, kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru-paru merupakan jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi.
Yeni menekankan bahwa perempuan Indonesia perlu lebih waspada terhadap kanker payudara dan serviks, sementara bagi laki-laki, kanker paru-paru dan prostat masih menjadi ancaman utama. “Faktor gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, sangat berpengaruh terhadap meningkatnya kasus kanker paru di Indonesia,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah organisasi masyarakat juga menyatakan kesiapan untuk menjalin kerja sama, termasuk dengan Asosiasi Kanker dan organisasi perempuan Indonesia. Salah satu bentuk kerja sama adalah Memorandum of Understanding (MoU) yang memungkinkan pertukaran pasien, kolaborasi dalam seminar, hingga program pengobatan gratis bagi pasien terpilih sesuai rekam medis.
Rencananya, pada Desember mendatang, akan digelar Kongres Besar dan Seminar Internasional Rehabilitasi Kanker yang melibatkan yayasan kanker dari berbagai negara. Forum tersebut akan menjadi ruang pertukaran ilmu pengetahuan mengenai diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi kanker, tidak hanya untuk kanker payudara, tetapi juga kanker hati, paru-paru, dan jenis kanker lainnya.

Sejumlah penyintas kanker juga hadir dalam kegiatan ini, termasuk artis Aida Saskia, yang berbagi pengalaman pribadi menjalani terapi kanker. Ia mengisahkan perjuangannya menjalani 9 kali kemoterapi, kontrol rutin, hingga proses rehabilitasi berkelanjutan.
“Alhamdulillah, perkembangan kondisi saya cukup signifikan. Meski sempat mengalami rambut rontok total dan tubuh melemah, dukungan keluarga dan teman-teman sangat membantu. Kuncinya adalah bersyukur, menjaga gaya hidup sehat, dan tetap bahagia,” ujar Aida Saskia.

Acara tersebut menegaskan bahwa perjuangan melawan kanker bukan hanya tugas dokter, tetapi juga masyarakat, organisasi, dan pemerintah. Sinergi semua pihak dibutuhkan untuk memberikan edukasi, deteksi dini, pengobatan tepat, serta rehabilitasi yang berkesinambungan.
Prof. Xu Kecheng menutup paparannya dengan pesan bahwa setiap penderita kanker adalah seorang fighter, bukan sekadar survivor. Dengan deteksi dini, metode pengobatan yang tepat, dan dukungan rehabilitasi, penderita kanker dapat kembali hidup sehat, produktif, dan berdaya




