Menurut Bachtiar, keberadaan Dapur Umum MBG yang ada saat ini justru kurang efektif dan berbiaya tinggi, di samping itu untuk menunya terkadang kurang diminati oleh para siswa, karena para siswa tinggal terima dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dalam kondisi seperti ini menurut Bachtiar banyak sisa makanan yang terbuang, di samping itu berbagai permasalahan lain seperti keracuan, akibat makanan yang diolah sejak malam hari dan baru disajikan kepada siswa pada siang harinya, sehingga menimbulkan masalah tersendiri pada Program MBG.

Bachtiar juga menegaskan bahwa kondisi dapur MBG yang ada saat ini, dimana satu dapur harus melayani beberapa sekolah dan ribuan siswa, ini juga kurang bagus, terbukti banyak menimbulkan masalah dalam program MBG ini.
“MBG akan jauh lebih efektif jika pengelolaannya dilakukan oleh pihak sekolah yang diawasi langsung oleh komite sekolah yang bersangkutan. Ini harus ada evaluasi, agar program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan bagus, bisa berjalan sesuai harapan, “jelas Mursali Bachtiar.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI dari Partai Gerindra, Ir.H Nuroji, M.Si, pada saat sosialisasi program MBG di Bekasi menekankan perlunya kerjasama lintas pihak, hal tersebut lanjut Nuroji, bahwa program MBG ini tujuannya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khsusunya untuk anak-anak.
Pada awal bulan Agustus 2025, sebanyak 169 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan di Bekasi, dengan penerima manfaat sebanyak 4.000 per-dapur. Melalui program MBG ini, diharapkan mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi bagi anak-anak di daerah tersebut.



