Lebih lanjut, Arif menyoroti pentingnya pelatihan dan edukasi bagi petani dan masyarakat sekitar hutan, agar bantuan pemerintah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memberikan hasil yang berkelanjutan dan produktif.

“Bantuan bukan hanya soal bibit atau alat, tetapi juga ilmu dan keterampilan. Tanpa pelatihan yang berkelanjutan, bantuan akan berhenti sebagai formalitas. Kita ingin petani menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, mandiri, dan mampu berinovasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arif Rahman juga memberikan apresiasi kepada pemuda Gunung Kencana yang berinovasi membuat kerajinan jam tangan berbahan kayu lokal, sebagai bentuk kreativitas dalam memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan. Ia menilai inovasi tersebut merupakan contoh konkret penerapan ekonomi hijau yang mampu membuka peluang ekonomi baru di pedesaan tanpa merusak lingkungan.

Namun demikian, Arif juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap menurunnya jumlah petani di Kabupaten Lebak, dari sekitar 30.000 menjadi 26.000 orang. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian menurun drastis karena belum melihat nilai ekonomi yang menjanjikan dari sektor tersebut.

“Kita tidak bisa menutup mata. Banyak anak muda meninggalkan pertanian karena dianggap tidak menguntungkan. Maka, sistem pertanian harus dibangun ulang agar hasilnya benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani, bukan hanya menguntungkan tengkulak,” tandasnya.

Sebagai penutup, Arif Rahman menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, dan masyarakat sekitar hutan melalui pendekatan ekonomi hijau dan biru yang berkeadilan, berkelanjutan, serta berbasis inovasi lokal.

“Melalui penguatan sistem verifikasi legalitas dan kelestarian hutan seperti SVLK, kita berharap sumber daya alam dapat dikelola dengan bijak, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian bagi generasi mendatang,” pungkas Arif Rahman.

(Dyt)