Teropongistana.comBanten – Di sepanjang jalur Maja–Koleang, debu tebal menempel di atap rumah, pakaian jemuran, buku pelajaran, hingga mukena dan sajadah di mushola. Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang menelan motor dan membahayakan pelajar, Sabtu (29/11/2025).

Hal itu datang dari satu sumber ratusan truk tanah bertuliskan Gading, Cakra, BKPN dan lain-lain, yang setiap hari mengangkut tanah dari Curugbitung menuju arah utara untuk kebutuhan proyek besar PIK, Penderitaan ini telah berlangsung bertahun-tahun.

Baca JugaSaatnya Ekspor Ide, Bukan Hanya JemaahRabu, 26 November 2025
Saatnya Ekspor Ide, Bukan Hanya Jemaah

720 Warga Tanda Tangan Menolak Galian Tanah

Iklan

Para Tokoh Maja mengonfirmasi bahwa sebanyak 720 warga telah menandatangani penolakan resmi terhadap aktivitas galian tanah dan lalu lintas truk tanah, Tanda tangan ini dikumpulkan dari orang tua, pedagang kecil, guru ngaji, ibu rumah tangga hingga para kyai dan ustadz yang setiap hari menyaksikan bagaimana lingkungan mereka rusak perlahan.

Dokumen penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat bukan sekadar mengeluh mereka bersatu, menyatakan sikap, dan menuntut tindakan nyata.

Debu dan Lumpur, Warga Hidup dalam Lingkungan yang Tidak Manusiawi