Menurutnya, tanah Papua memiliki posisi strategis dalam perjalanan kebangsaan Indonesia sehingga memerlukan perhatian dan kepedulian bersama. “Karena itu, saya merasa berkewajiban memberi perhatian khusus kepada warga masyarakat Papua sebagai bagian yang utuh dan tidak terpisahkan dari Indonesia,” tegasnya.
Menag mengajak masyarakat untuk memandang perbedaan sebagai anugerah yang patut disyukuri, bukan diratapi.
“Hari ini kita merayakan perbedaan. Jangan meratapi perbedaan, tetapi mensyukurinya. Tidak indah sebuah lukisan jika hanya berwarna putih, sekalipun bingkainya emas. Justru keindahannya lahir dari warna-warni,” tutur Menag.
Ia menegaskan bahwa keberagaman umat beragama merupakan karya Tuhan yang harus dijaga bersama.
“Kita semua di sini adalah lukisan Tuhan yang sangat indah. Lukisan itu tidak boleh diacak-acak dan tidak boleh dirusak,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyinggung salah satu program Kementerian Agama sejak awal masa jabatannya, yakni gerakan penanaman satu juta pohon matoa.
“Kami menanam satu juta pohon matoa, tanaman khas Papua, di berbagai daerah di Indonesia. Ini adalah simbol kecintaan kita kepada Papua sekaligus komitmen kita menjaga Indonesia,” kata Menag.

Menutup sambutannya, Menag menegaskan bahwa Jalan Sehat Kerukunan Lintas Agama merupakan pesan kuat persatuan yang ditujukan kepada dunia.
“Gerak jalan lintas agama ini kita perlihatkan kepada langit dan bumi, bahwa meskipun kita berbeda, kita tetap bisa kompak dan bersatu,” pungkasnya.
Kegiatan Jalan Sehat Kerukunan yang mengusung tema “Merawat Semesta dengan Cinta – Love in God, Harmony Together” ini diakhiri dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Agama bersama tokoh lintas agama, serta penyerahan simbolis pohon matoa sebagai wujud komitmen memperkuat moderasi beragama dan menjaga persatuan bangsa, khususnya di Papua Barat Daya.




