Teropongistana.com Lebak – Hujan deras yang mengguyur Kampung Pangairan, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping pada awal bulan ini tidak hanya membasahi tanah, tetapi juga menusuk hati Mak Minah (52 tahun), seorang pedagang sayur yang setiap paginya harus berjuang melintasi jalan yang sudah rusak parah selama lebih dari setahun.
“Suatu hari saya membawa bakul sayur sebanyak lima kilogram untuk dijual ke pasar Malingping. Tapi karena jalan penuh dengan lubang dan lumpur yang dalamnya sampai mata kaki, saya terpeleset dan seluruh sayur saya tercampur dengan lumpur,” cerita Mak Minah sambil mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.

“Hari itu saya tidak bisa menjual apa-apa, uang seharian saya sirna begitu saja. Anak saya yang sedang sakit tidak bisa saya belikan obat karena itu.” sambungnya sambil membayangkan kondisi jalan.
Kisah sedih Mak Minah bukanlah hal baru di kampung ini. Jalan sepanjang 500 meter yang menghubungkan Kampung Pangairan dengan jalan utama telah lama menjadi momok bagi seluruh warga. Setiap musim hujan, jalan yang tidak memiliki lapisan aspal akan tergenang air dan lumpur, sementara di musim kemarau, jalan menjadi penuh dengan lubang yang dalamnya bisa mencapai 30 sentimeter.

Pak Slamet (45 tahun), seorang petani jagung, mengaku sering kehilangan hasil panen karena tidak bisa mengangkutnya tepat waktu ke pasar.
“Saat panen musim lalu, saya harus menyewa tiga orang untuk membawa jagung dengan menggunakan bakul karena kendaraan tidak bisa masuk. Biaya yang harus saya keluarkan jadi dua kali lipat dari biasanya, padahal harga jagung sudah sangat murah,” ujarnya dengan nada menyesal.



