Teropongistana.com Jakarta – Kebijakan pemerintah menggelontorkan insentif Ramadan dan Lebaran sebesar Rp12,8 triliun dinilai sebagai langkah strategis menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan kebutuhan musiman.

Namun efektivitas pelaksanaan, akurasi data penerima serta dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi catatan penting agar kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai stimulus sesaat.

Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati menyampaikan bahwa Ramadan dan Lebaran bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga momentum ekonomi yang setiap tahun mendorong lonjakan konsumsi dan perputaran uang di daerah.

Iklan

“Ramadan dan Lebaran itu bukan hanya momentum ibadah, tapi juga momentum ekonomi. Setiap tahun perputaran uang meningkat, konsumsi naik, dan daerah-daerah ikut bergerak. Jadi wajar kalau pemerintah hadir dengan mengeluarkan insentif Rp12,8 triliun untuk bantuan pangan dan transportasi,” tutur Anis dinukil laman DPR, Selasa (24/2/2026).

Politikus Fraksi PKS itu menegaskan DPR mendukung kebijakan yang bertujuan meringankan beban masyarakat, terutama di tengah tekanan harga pangan. Meski demikian, fungsi pengawasan tetap diperlukan agar program berjalan optimal.

“Kami mendukung langkah yang meringankan beban rakyat. Tapi kami juga akan memastikan pelaksanaannya benar-benar efektif dan tidak sekadar menjadi kebijakan musiman tanpa evaluasi,” tegasnya.