Teropongistana.com JAKARTA – Langkah diplomasi yang diambil Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai terlalu cepat mendapatkan serangan kritik, bahkan sebelum hasil nyata terlihat. Menurut pengamat, penilaian yang tergesa-gesa dan kesimpulan yang ditarik di tengah proses yang belum selesai menunjukkan ketidaksabaran publik terhadap dinamika politik luar negeri.
Hal ini terlihat dari reaksi publik terkait bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) hingga kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Banyak yang menilai langkah ini sebagai pergeseran arah atau bahkan kecurigaan bahwa Indonesia mulai meninggalkan posisi historisnya dalam isu Palestina.

Diplomasi Bukan Sekadar Simbol, tapi Strategi
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S.Ag., M.Si, menegaskan bahwa kritik yang muncul sering kali lebih mencerminkan kegelisahan politik daripada analisis strategis yang mendalam.

Menurut Guru Besar Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan ini, diplomasi tidak bergerak melalui simbol-simbol yang mudah dimengerti publik, melainkan melalui kalkulasi panjang, negosiasi berlapis, dan keputusan yang sering kali tidak nyaman bagi logika moral yang kaku.
“Diplomasi negara tidak bergerak melalui simbol, tetapi melalui strategi. Ia membutuhkan kalkulasi panjang, negosiasi berlapis, dan keberanian mengambil keputusan yang sering tidak nyaman bagi logika publik yang terbiasa dengan garis moral yang kaku,” ujar Prof. Ngabalin.



