Ia menjelaskan, politik luar negeri bebas aktif Indonesia tidak pernah kaku. Prinsip ini terus berevolusi, bukan sekadar menjaga jarak, melainkan menavigasi aktif di tengah arus kepentingan global yang saling bertabrakan.

Jangan Menilai dari “Tribun Moral”

Prof. Ngabalin menyoroti kecenderungan sebagian kalangan, termasuk politisi senior, yang menilai kebijakan luar negeri dari apa yang disebutnya sebagai “tribun moral”. Pandangan hitam-putih ini sering menyederhanakan setiap interaksi sebagai tanda kesetiaan atau pengkhianatan.

Padahal, tegasnya, diplomasi bekerja di wilayah abu-abu. Hadir di meja perundingan justru membuka peluang memengaruhi keputusan, sementara berdiri di luar hanya memberi kenyamanan retorika tanpa pengaruh nyata.

“Mereka yang berdiri di tribun moral sering lupa bahwa keputusan nyata selalu diambil di meja negosiasi. Menghindari forum mungkin memberi kenyamanan moral, tetapi tidak pernah memberi pengaruh strategis,” tegasnya.

Komitmen Indonesia terhadap Palestina, lanjut Ngabalin, adalah bagian dari identitas bangsa yang tidak akan hilang. Namun, pemimpin besar harus memahami perbedaan antara prinsip dan strategi. Idealisme harus dibungkus dengan kecerdasan agar mampu bertahan dalam realitas geopolitik yang kompleks.

Dihajar Sebelum Hasil Terlihat

Dalam tulisannya, Prof. Ngabalin menyesalkan fenomena di mana Presiden “dihajar” ketika proses baru dimulai, dinilai saat negosiasi masih berjalan, dan disimpulkan sebelum dampak terlihat.

“Diplomasi jarang menghasilkan headline instan yang dramatis. Ia bekerja dalam tiga lapisan: percakapan tertutup, kompromi strategis, dan pembentukan kepercayaan jangka panjang yang tidak selalu terlihat publik,” paparnya.

Kritik yang terlalu dini justru dapat melemahkan posisi tawar Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, pendekatan soft diplomacy yang ditunjukkan Prabowo dinilai sebagai bentuk navigasi bebas aktif yang relevan dengan zaman—mampu mengalir mengikuti dinamika global tanpa kehilangan arah kepentingan nasional.

“Politik luar negeri yang matang menuntut kepala dingin dan perspektif jangka panjang. Menghakimi sebelum hasil terlihat mungkin memberi kepuasan emosional sesaat, tetapi tidak memperkuat posisi Indonesia,” pungkas Prof. Ali Mochtar Ngabalin.