Teropongistana.com JAKARTA – Fenomena penggunaan kata-kata kasar, khususnya kata “anjing”, yang semakin lumrah dalam percakapan sehari-hari menjadi sorotan tajam. Educator, Activist, dan Humanist, Inggrit Astridayanti, mengkritisi tren ini sebagai tanda “Ketika Etika Gugur di Ujung Lidah”.

Menurut Inggrit, kata yang dulu dianggap sangat kasar kini seolah menjadi bumbu percakapan yang bisa ditempelkan dalam berbagai ekspresi: kaget, kesal, bercanda, bahkan tanpa alasan sekalipun.

“Satu kata yang kini menjadi favorit banyak orang adalah ANJING!!! Hampir semua hal bisa ditempeli dengan kata itu. Kaget – ANJING; Kesal – ANJING; Bercanda – ANJING. Bahkan tanpa alasan pun kata itu bisa keluar, seolah refleks, ringan, dan spontan tanpa beban,” papar Inggrit Astridayanti dalam tulisannya, Senin (7/4/2026).

Kehilangan Kendali atau Gaya Anak Sekarang?

Inggrit mempertanyakan sejak kapan kata yang dianggap kasar berubah menjadi “normal” dalam percakapan. Ia menyoroti dalih bahwa ini adalah bentuk ekspresi, kejujuran, atau “gaya anak sekarang”.

“Tetapi kalau semua hal harus diucapkan dengan kasar, apakah itu benar-benar gaya atau justru tanda kehilangan kendali? Ada yang bilang yang penting tidak munafik. Tapi jujur tanpa etika bukan keberanian, itu sekadar ketidaksabaran yang dibenarkan,” tegas Inggrit.