Ia juga menolak anggapan bahwa ini “cuma kata santai saja”. Bagi Inggrit, jika semua dianggap “cuma kata”, lambat laun masyarakat akan lupa bahwa kata bisa membentuk cara berpikir, dan cara berpikir akan membentuk cara kita memperlakukan orang lain.

Batas Antara Ekspresi dan Penghinaan Menjadi Kabur

Lebih lanjut, Inggrit mengemukakan kekhawatirannya tentang hilangnya kesadaran kolektif. Semakin sering kata kasar dipakai, semakin banyak yang merasa itu normal, dan semakin tidak perlu dipertanyakan.

“Di situlah masalahnya dimulai. Bukan katanya, tetapi pada hilangnya kesadaran. Karena ketika lidah terbiasa lepas tanpa saring, batas antara ekspresi dan penghinaan jadi kabur, batas antara bercanda dan merendahkan jadi tipis. Tanpa sadar, kita sedang melatih diri untuk tidak peduli,” ujarnya prihatin.

Dulu, kata Inggrit, orang diajarkan menjaga ucapan bukan karena takut dibilang lemah, tetapi karena tahu kata yang salah bisa melukai lebih dalam daripada tindakan. Namun kini, yang dijaga justru gengsi untuk terlihat santai, liar, dan real, seolah-olah semakin kasar semakin keren.

“Padahal apa istimewa, kelebihan, atau hebatnya dari tidak bisa mengontrol ucapan? Apa bangganya punya lidah yang tidak punya rem?” tanyanya retoris.

Inggrit menutup dengan peringatan keras: ketika manusia terbiasa (membudaya) dengan merendahkan manusia lain melalui ucapan, di situlah etika benar-benar gugur. Bukan hilang perlahan, melainkan jatuh tanpa disadari, di ujung lidah kita sendiri.