Menurut pengamat maritim Indonesia dari Ikatan Keluarga Besar Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, beliau melihat hal tersebut sebagai “tes ombak” terhadap system keamanan maritim kita ditengah memanasnya geopolitik Kawasan. Jangan sampai termakan narasi yang menyesatkan dengan narasi “ hanya alat riset cuaca”. Karena dalam dunia maritim antara riset ilmiah dan spionase bawah air (underwater spionage) ada batas tipis. Dimana kapa asing bisa dengan mudah melepas benda asing (Glider) diwilayah ALKI dan menyapu data rahasia dasar laut kita secara otomatis. Dalam hal ini pemerintah melalui Bakamla atau TNI AL harus bersifat lebih agresif, jangan sekedar mengamankan barang tetapi tracking data didalamnya serta kepemikikan dan apa tujuannya. Kejadian berulang di area chokepoints ini menambah catatan, bahwa kapal asing menjadikan teritorial maritim kita sebagai laboratorium gratis mereka. Ini merupakan sinyal untuk itu pemerintah harus segera meningkatan penguatan teknologi sensor bahwa air (Hydrophone) di sepanjang ALKI tidak dapat di tunda lagi.

Sinyal bahaya penemuan glider di Gili Trawangan Adalah pengingat keras bahwa ancaman kedaulatan sudah bukan dipermukaan maupun di dalam air dengan awak, lebih jauh daripada itu dengan teknologi senyap menyelinap bawah permukaan. Pemerintah harus segera mengidentifikasi pemilik alat tersebut jangan ada kompromi dan memberikan nota protes diplomatic jika terbukti ada pelanggaran izin Laut Adalah halaman terdepan rumah kita, dan kita tidak boleh mengizinkan orang asing memasang “kamera pengintai” dihalaman kita tanpa izin.

Dyt