Lebih lanjut, mantan aktivis LMND tersebut mengaku prihatin terhadap dinamika politik lokal yang dinilai terlalu fokus pada konflik internal elite, sementara persoalan mendasar masyarakat belum tertangani secara optimal.

“Kami muak melihat politik yang sibuk menguliti sesama elite, sementara rakyat masih berjuang dengan harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, dan pelayanan publik yang belum merata. Jika DPRD hanya menjadi panggung intrik, maka lembaga itu sedang kehilangan maknanya sebagai rumah rakyat,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari demokrasi, namun fitnah dan manuver tanpa dasar etik justru menjadi ancaman bagi kualitas politik.

“Setiap tuduhan harus diuji melalui mekanisme formal yang transparan dan akuntabel. Jika politik hanya dijadikan alat untuk saling menjatuhkan, maka yang runtuh bukan hanya lawan politik, tetapi juga martabat demokrasi itu sendiri,” pungkasnya. (Red)