Mukhsin secara spesifik menunjuk hidung Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Ditjen Daglu) sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas carut-marut perizinan ini. Ia mendesak agar Dirjen Daglu dievaluasi total karena kegagalannya melakukan verifikasi administratif yang berakibat fatal pada nasib ribuan buruh.
PHK Massal: Dampak Nyata Kelalaian Negara
Penutupan Krakatau Osaka Steel menambah daftar panjang korban setelah sebelumnya Metal Steel Group (Ispat Indo) juga berhenti beroperasi. Mukhsin menyoroti dampak kemanusiaan berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tak terhindarkan.
“PHK ini bukan sekadar statistik. Ini adalah ribuan keluarga yang kehilangan nafkah karena Kemendag lebih memilih memanjakan importir daripada melindungi industri dalam negeri. Kami menuntut tanggung jawab moral dari Krakatau Steel sebagai pemegang saham untuk memastikan hak-hak pekerja dipenuhi 100% tanpa kompromi,” tambahnya.
Poin-Poin Tuntutan MataHukum:
Audit Investigatif Ditjen Daglu: MataHukum mendesak aparat penegak hukum menindaklanjuti temuan BPK terkait selisih alokasi impor baja yang mencapai ratusan ribu ton tanpa dukungan Pertek yang sah.

Stop Impor Produk Jadi: Pemerintah harus segera mempertegas aturan Larangan Terbatas (Lartas). Baja konstruksi jadi yang mematikan bengkel las lokal harus disetop total.
Pemberlakuan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD): Segera terapkan tarif anti-dumping untuk semua lini produk baja dari hulu ke hilir guna menciptakan persaingan yang adil.

Tanggung Jawab Krakatau Steel: Sebagai perusahaan negara, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk jangan hanya menjadi penonton saat anak usahanya tumbang. Harus ada mitigasi nyata terhadap dampak sosial bagi pekerja terdampak.
“Jangan sampai alasan ‘hanya menjalankan regulasi’ dipakai untuk menutupi kongkalikong izin impor. Jika Kemendag tidak segera berbenah, industri baja kita akan habis, dan Indonesia hanya akan menjadi gudang bagi sampah industri negara lain, kalau kemendag tidak dibenahi lebih baik Budi Santoso mundur saja dari menteri perdagangan” tutup Mukhsin Nasir dengan nada tajam.




