Sebelumnya, anggota DPD RI perwakilan Papua Barat Daya, Agustinus Kambuaya, menyampaikan keprihatinannya atas penjegalan dan larangan pemutaran film tersebut di beberapa daerah di Indonesia.
Menurut Agustinus Kambuaya, masyarakat tidak perlu bersikap paranoid ataupun saling mencurigai. Ia menilai film tersebut justru dapat menjadi cermin untuk melihat kenyataan sosial, mendengar suara masyarakat, serta memahami luka yang selama ini dirasakan masyarakat Papua.
“Film Pesta Babi bisa menjadi rem dan spion bagi negara. Rem agar kebijakan tidak melukai rakyat, sementara spion untuk melihat kembali apa yang selama ini terabaikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang takut dikritik, melainkan bangsa yang mau mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki diri demi keadilan dan kemanusiaan. (Jun/red)




