Ia mengungkapkan sejumlah fakta di lapangan, mulai dari guru bantu di daerah yang hanya menerima gaji Rp300 ribu per bulan, bahkan dibayarkan tiga bulan sekali. Tidak sedikit guru yang harus mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Ada guru yang menjadi pengemudi ojek online, ada yang bekerja mencuci pakaian untuk bertahan hidup. Bahkan THR yang diterima hanya Rp80 ribu,” ujarnya.

Firman mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menilai kesejahteraan guru belum menjadi perhatian serius, padahal guru memiliki peran fundamental dalam membangun kualitas generasi bangsa.

“Mungkinkah anak bangsa ini menjadi pandai tanpa guru yang tingkat kesejahteraannya masih rendah?” katanya.

Politikus Partai Golkar itu juga menyoroti dugaan penyimpangan penggunaan dana pendidikan di daerah. Menurutnya, dana alokasi pendidikan yang seharusnya digunakan untuk kepentingan pendidikan justru dialihkan untuk kebutuhan lain.

Karena itu, Firman meminta adanya solusi konkret dan keberpihakan nyata terhadap nasib guru honorer dan guru bantu di seluruh Indonesia.

“Kita tidak boleh hanya menyampaikan hal-hal normatif. Harus ada solusi nyata untuk memperbaiki kesejahteraan guru demi masa depan pendidikan nasional,” tegasnya.