Solusi buat menghadapi situasi krusial ini, ia mendesak pemerintah dan otoritas moneter agar segera mengeksekusi beberapa langkah taktis sebelum penilaian indeks oleh pelaku global penting seperti FTSE dan MSCI dilakukan pada pertengahan Juni ini. Pemerintah harus menghentikan pengumuman regulasi baru yang bersifat restriktif secara mendadak.

“Setiap cetak biru kebijakan ekonomi makro harus dikomunikasikan secara transparan, terukur, dan memiliki lini masa yang jelas agar tidak menimbulkan spekulasi negatif,” tukasnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) harus pula mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menahan laju pelemahan rupiah supaya tidak menjebol level psikologis Rp18.000 per dollar AS, yang dapat memicu kepanikan sistemik di sektor riil.

“Pemerintah pun wajib memberikan jaminan pengelolaan fiskal atau anggaran yang kredibel dan akuntabel buat mempertahankan peringkat investment grade dari S&P yang saat ini masih stabil, sekaligus memitigasi dampak dari outlook negatif Moody’s dan Fitch,” pungkas Marwan Jafar.