teropongistana.com – Di negeri ini, hampir semua hal akan terlihat lebih meyakinkan jika diberi singkatan. Ada PSN, RPJMN, KPBU, Otsus, AMDAL, dan entah berapa banyak lagi huruf-huruf kapital yang lahir dari ruang rapat, kemudian berkelana ke daerah-daerah membawa misi pembangunan.

Kali ini yang datang ke Merauke bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan salah satu semangat besarnya: ketahanan pangan. Sebuah gagasan yang mulia. Sebab bangsa yang besar memang tidak boleh bergantung pada perut bangsa lain. Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu ironi kecil yang menarik untuk direnungkan. Ketahanan pangan diperkenalkan kepada masyarakat Malind seolah-olah ia adalah penemuan baru.

Padahal jauh sebelum republik ini memiliki kementerian, badan perencanaan, konsultan pembangunan, atau tim ahli yang mampu membuat grafik berwarna-warni, orang Malind sudah mengenal konsep itu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyebutnya Wambad. Tidak ada seminar nasional tentang Wambad. Tidak ada hotel berbintang yang menjadi tempat peluncurannya. Tidak ada sertifikat peserta.
Tidak ada foto bersama dengan latar belakang spanduk berukuran raksasa. Tetapi anehnya, konsep itu berhasil bertahan ratusan tahun.

Wambad adalah kewajiban seorang laki-laki Malind untuk berkebun. Bukan karena ada target kinerja. Bukan karena ada indikator keberhasilan. Tetapi karena hidup harus dijalani dengan tanggung jawab. Seorang laki-laki Malind yang tidak berkebun akan lebih cepat menjadi bahan pembicaraan masyarakat dibandingkan pejabat yang lupa janji kampanye.

Sebab dalam budaya Malind, bekerja bukan pilihan gaya hidup. Bekerja adalah kehormatan. Maka sejak remaja mereka diajarkan membuka kebun, menanam sagu, ubi, keladi, pisang, tebu, dan berbagai sumber pangan lainnya. Hasilnya kemudian dikumpulkan menjadi Mbulalo.