Lebih lanjut, Jerry menilai model politik pencitraan dengan bagi-bagi sembako berbalut simbol partai kini sudah tidak lagi sakti di mata masyarakat yang kian cerdas.
Meredupnya “Sihir” Jokowi di PSI
Upaya Jokowi mendongkrak elektabilitas PSI juga diprediksi akan berujung sia-sia. Meski menggunakan jargon “PSI partainya Jokowi”, perolehan suara partai tersebut pada pileg lalu mandek di angka 2,9%—gagal menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 presen.
Jerry Massie bahkan memperingatkan bahwa jika PSI terus memaksakan diri mengusung Gibran dan tidak fokus pada pembenahan internal, pemilu mendatang bisa menjadi “kiamat” elektoral bagi partai berlambang mawar tersebut.

“Elektabilitas PSI saat ini masih terpuruk di kisaran 1 hingga 1,5 persen. Lebih baik PSI fokus meloloskan diri ke parlemen ketimbang bermimpi muluk di bursa Pilpres,” tegas Jerry.
Gibran Terhambat Isu Sensititf, Prabowo Cari Alternatif

Di sisi lain, Jerry menyebut langkah Gibran menuju 2029 akan sangat berat akibat tumpukan sentimen negatif dari masa lalu. Polemik akun fiktif “Fufu Fafa” hingga isu keabsahan ijazah dinilai menjadi batu sandungan besar yang sewaktu-waktu bisa menganulir posisinya di mata publik.
Sebagai gantinya, Prabowo Subianto diprediksi akan mencari figur pendamping yang jauh lebih matang, cerdas, visioner, dan didukung oleh mesin partai yang solid demi menjaga stabilitas nasional.

Beberapa nama potensial dari kalangan profesional dan teknokrat kini mulai mencuat, seperti Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Tak hanya itu, Prabowo juga memiliki peluang besar untuk membangun koalisi kuat dengan merangkul para ketua umum partai besar, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat), Zulkifli Hasan (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB), bahkan tokoh sentral seperti Puan Maharani (PDIP) dan Surya Paloh (NasDem).




