Direktur Bendungan dan Danau Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Airlangga Mardjono menjelaskan, pembangunan Bendungan Sadawarna adalah satu dari 61 program pembangunan bendungan yang dicanangkan sejak tahun 2014. Dimana, diharapkan semua pembangunan bisa tuntas pada tahun 2024 mendatang.
Namun karena ada satu dan lain hal, di situasi pandemi serta adanya refocusing anggaran, ada empat bendungan yang akan mundur dalam pembangunannya dan ditargetkan akan tuntas pada tahun 2025. “Untuk Bendungan Sadawarna sendiri alhamdulillah masih on schedule, walaupun pada awal kita melakukan kegiatan pembangunan ada kendala sedikit dalam proses pengadaan tanahnya,” jelas Airlangga.
Dari 61 bendungan yang direncanakan, saat ini sudah terselesaikan 22 bendungan, dan hingga akhir tahun ditargetkan ada 31 bendungan yang akan tuntas. Semuanya sudah berstatus Proyek Strategis Nasional. “Kita berharap bendungan ini bisa cepat tuntas dan dapat segera dirasakan oleh masyarakat, baik dari irigasi, maupun penyediaan air baku serta hal lainya,” harapnya.
Diketahui Bendungan Sadawarna merupakan salah satu Program Strategis Nasional di bidang Sumber Daya Air. Bendungan ini mampu menampung 44,61 juta m3 untuk mensuplai irigasi seluas 4.500 hektare di Subang dan Indramayu. Diharapkan suplai air irigasi dari Bendungan Sadawarna dapat membantu petani meningkatkan intensitas tanamnya jika dibandingkan dengan metode tadah hujan yang hanya satu kali dalam setahun.
Bendungan Sadawarna juga dipersiapkan untuk memasok air baku sebesar 0,36 hingga 1 m3/detik untuk Kawasan Pelabuhan Patimban dan Pantura Jawa Barat, khususnya Kabupaten Subang, Indramayu, dan Sumedang, serta memiliki potensi sumber pembangkit listrik sebesar (PLTA) sebesar 2 MW




