“Perbuatan teror ini pastinya didorong oleh tindakan nekad yang luar biasa. Kenekadan semacam ini bisa muncul ketika sebuah entitas yang selama ini menikmati berbagai previlage mulai terancam eksistensinya akibat koreksi yang dilakukan pemerintah” tegas Sulaiman Haikal Ketua Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi 1998 (PIJAR 98).

Haikal menjelaskan, tindakan tegas pemerintah itu bisa ditelusuri ke belakang yaitu pemberantasan korupsi dan kartel migas yang selama ini menikmat keuntungan kotor dan merugikan negara melalui praktek mark up, dan merugikan rakyat melalui pengoplosan minyak. Besar kerugian yang diderita negara dan rakyat Indonesia ditengarai hingga ratusan bahkan tembus seribu trilyun rupiah.
“Nah, mereka dengan kekuatan finansialnya melakukan pembalasan kepada pemerintahan Prabowo melalui tindakan-tindakan subversif berupa operasi false flag teror kepada majalah Tempo. Operasi ini bertujuan ingin membuat kesan di masyarakat seakan-akan teror itu dilakukan oleh pemerintah, lebih spesifik Pak Prabowo. Seolah pemerintahan Prabowo anti kritik dan berwatak militeristik” analisa Haikal.
Target teror pun dipilih majalah Tempo yang selama ini kritis kepada pemerintah. “Dan jangan lupa, majalah Tempo juga sering menurunkan laporan investigasi mengenai praktek kartel oligarki minyak ini. Jadi operasi teror ini membidik dua target sekaligus, majalah Tempo dan Prabowo yang sudah merugikan bisnis kotor mereka”.

Tujuan dari operasi teror ini tentu saja ingin menjatuhkan citra pemerintahan Prabowo. Dalam situasi demo-demo mahasiswa yang marak akhir-akhir ini, tindakan teror kepala babi ini mendompleng situasi, seolah menyiram bensin agar tercipta eskalasi di luar kendali hingga bisa menjatuhkan pemerintahan Prabowo, tutup Haikal.




