Teropongistana.com Jakarta – Ketegangan antara masyarakat dan aparat keamanan kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah aksi unjuk rasa berakhir ricuh dalam beberapa bulan terakhir. Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) mengingatkan pentingnya menolak provokasi dan agitasi yang berpotensi membenturkan rakyat dengan aparat.

Koordinator Nasional HAM-I, Asep, menilai bentrokan hanya akan melahirkan kerugian kolektif, merusak kepercayaan, sekaligus mengancam kohesi sosial bangsa.

Menurutnya, peristiwa bentrok yang terjadi di sejumlah daerah harus menjadi pelajaran bersama bahwa provokasi dan agitasi hanya akan memancing konflik.

“Polarisasi sosial yang dibiarkan berlarut-larut itu bisa memicu spiral kekerasan. Jika masyarakat memandang aparat sebagai lawan, sementara aparat terpaksa mengambil langkah koersif, maka kepercayaan publik terhadap negara akan runtuh,” ujar Asep dalam pernyataan resminya, Rabu (17/9).

Meski begitu bahaya provokasi, lanjut Asep, pola bentrokan yang kerap muncul dalam demonstrasi seringkali tidak lahir murni dari aspirasi publik, tapi dipicu oleh provokasi pihakpihak tertentu. Ia mencontohkan, dalam beberapa aksi, eskalasi konflik kerap berawal dari tindakan segelintir orang yang melemparkan botol, membakar fasilitas, atau menyebarkan ujaran kebencian di media sosial.

“Inilah yang kita sebut agitasi: sebuah upaya memancing reaksi emosional agar aparat dan masyarakat saling berhadap-hadapan,” katanya.