Apa yang Kemudian Terjadi?
Pro kontra diciptakan sebagai pengalihan isu sekaligus menghitung ulang siapa saja yang setuju atau tidak akan kebangkitan Orde Baru.
Mayoritas aktivis Reformasi yang menumbangkan Suharto sudah dirangkul. Sebagian lagi tidak bersuara karena lumpuh dalam pilihan oposisi.
Tinggal menyisakan publik netijen yang bebas beropini dan berkomentar apapun. Jumlahnya tidak banyak, namun dipercaya mampu menggerakkan kesadaran publik tentang topeng penguasa yang kini sedang giliran di pos jaga.
Wajah kekuasaan yang mendadak sosialis saat pembagian bansos dan MBG. Mendadak kapitalis saat transaksi tambang dan SDA. Berubah demokratis pada siklus limatahunan
Namun celakanya secepat kilat otoriter saat membuat keputusan
Suharto barter dengan Marsinah, menjadi Pahlawan bersanding di tahun yang sama. Begitulah cara unik mengubur Reformasi yang digadang-gadang sebagai keberhasilan rakyat menumbangkan penguasa dzolim.
Kita Bisa Apa?
Tetaplah bersuara meskipun di kesunyian. Setidaknya kita sudah punya pilihan tidak ikut arus besar bukan karena tidak pandai berenang. Tetapi menjadi batu di dasar arus yang bertahan tidak kemana-mana di setiap musim pancaroba kekuasaan.
Penulis : Dahono Prasetyo dari Litbang Demokrasi

