Ia menegaskan bahwa pelayanan haji adalah tanggung jawab negara yang melibatkan sinergi pusat–daerah serta pemangku kepentingan. Dalam praktiknya, sinergi ini berarti: semua harus siap, jangan sampai tahun depan jemaah antre di front desk sambil bingung mencari voucher breakfast.
Hotel Ibis dan Novotel YIA disiapkan sebagai fasilitas setara asrama haji dengan standar pelayanan modern.
Lebih dari 200 kamar akan dipakai jemaah dan petugas dengan konfigurasi tiga orang per kamar—sebuah pengingat bahwa kebersamaan tetap wajib, meski tempatnya nyaman.

Ballroom dan 11 ruang pertemuan juga dipersiapkan sebagai pusat layanan, mulai dari kesehatan, dokumentasi, hingga proses pemberangkatan. Atau dalam istilah satirnya: semua akan berlangsung seperti konferensi internasional, hanya saja para pesertanya memakai kain ihram.
Operasional Embarkasi Haji Yogyakarta ditargetkan mulai 2026, melayani jemaah DIY dan sebagian Jawa Tengah. Embarkasi ini diharapkan memangkas jarak, mengurangi kepadatan embarkasi lain, dan mengoptimalkan fungsi Bandara Internasional Yogyakarta—yang selama ini seperti menunggu takdir untuk lebih sibuk.
“Embarkasi ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh dan mengurangi kepadatan,” tandas Gus Irfan, seolah memastikan bahwa perjalanan menuju ibadah suci kini dimulai dari lorong hotel yang wangi.







