“Kalau dibiarkan, ya semakin tidak terkendali. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan pagar itu persoalan di Lapdek bisa benar-benar selesai?” katanya.
Dari sisi estetika, Danny juga menyebut tampilan Lapang Merdeka sebelum dipagari dinilai lebih enak dipandang. Ia mengaku sependapat dengan kritik para pengamat tata kota yang menilai desain pagar tidak selaras dengan karakter dan konsep elegan Lapang Merdeka sebelumnya.
Ia menilai wajar jika muncul kritik dari kalangan profesional tata ruang, mengingat Lapang Merdeka sempat dirancang sebagai ruang terbuka yang menyatu dengan kawasan strategis pusat kota.
Sebelumnya, kritik keras terhadap proyek pemagaran Lapang Merdeka juga disampaikan arsitek senior sekaligus mantan Tim Penataan Kota Sukabumi, I Hendy Faizal. Ia menilai pembangunan pagar tersebut bertentangan dengan konsep ruang terbuka dan master plan kawasan strategis kota yang disusun pada 2021–2022.
Menurut Hendy, pengendalian aktivitas seharusnya dilakukan melalui instrumen nonfisik seperti peraturan daerah dan penegakan hukum, bukan dengan pendekatan pragmatis berupa pagar.
Meski demikian, Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) menyatakan pemagaran dilakukan sebagai langkah terakhir untuk mengembalikan fungsi Lapang Merdeka. Pemagaran sepanjang 317 meter itu diklaim hanya membatasi titik akses tertentu agar pengawasan lebih efektif.
(Sumber:Sukabumi.id)
