“Indonesia berperan aktif dalam mendorong perdamaian dan kemerdekaan Palestina, dengan modal strategis tersebut Indonesia seharusnya juga mampu mengambil peran dalam konflik Iran,” tegas Revitriyoso. Selama ini Indonesia bersahabat baik dengan Amerika, Iran, maupun negara-negara Teluk yang terlibat konflik.

Indonesia baru saja menandatangani kesepakatan tarif dengan Amerika untuk mengamankan ekspor komoditas strategis dan mengimpor sesuai kebutuhan domestik. Selama ini Indonesia juga aktif melobi Arab Saudi, UEA, dan Qatar untuk menanamkan investasi pada proyek-proyek besar.

Hubungan Indonesia dengan Iran terjalin lama, termasuk sebagai sesama anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi Negara Berkembang atau Developing-8 (D8), di mana Indonesia saat ini memegang keketuaan.

Selain itu Indonesia juga memiliki kepentingan nasional untuk mencegah konflik tersebut berlarut-larut, yang bisa berdampak pada perekonomian dan stabilitas sosial-politik. “Salah satu perusahaan petrokimia terkemuka bahkan telah menyatakan kondisi force majeur karena terganggunya pasokan bahan baku, lebih jauh hal ini akan berdampak pada devisa dari industri pelayaran” jelas Revitriyoso.

Untuk itu Revitriyoso mengajak kalangan relawan pendukung Prabowo dan masyarakat Indonesia bersatu menyikapi gejolak geopolitik internasional. “Saat ini Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo berada pada posisi yang strategis untuk mengambil peran di tingkat global,” pungkas Revitriyoso. (*)