KITA Banten: “Dewan Sedang Membangun Menara Gading di Tengah Reruntuhan”

Senada dengan itu, Agus Suryaman dari Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) Provinsi Banten, menyoroti kontras sosial yang terjadi di lapangan. Ia menilai DPRD Lebak gagal menangkap rasa sakit yang dirasakan warga.

Baca JugaLift, Bukti Kematangan Sinema LokalSenin, 2 Maret 2026
Lift, Bukti Kematangan Sinema Lokal

“Lihatlah sekolah-sekolah yang ambruk dan jalanan yang lebih mirip kubangan kerbau. Bagaimana mungkin nurani mereka tidak terusik saat menaikkan dana reses miliaran rupiah sementara anak-anak kita kekurangan gizi?” ujar Agus Suryaman dengan nada geram.

Agus menekankan bahwa dalih fungsi representasi hanyalah tameng untuk konsolidasi elektoral pribadi. “DPRD Lebak sedang membangun menara gading. Mereka duduk nyaman di ruangan ber-AC dengan anggaran yang terus membengkak, sementara di luar sana, rakyat mati-matian bertahan hidup di tengah ancaman bencana dan krisis kesehatan. Ini adalah cacat moral politik yang sangat memuakkan.”

Ironi di Balik Angka

Berdasarkan dokumen APBD 2026, lonjakan anggaran reses ini terjadi saat Kabupaten Lebak masih berjuang melawan:

• Tingginya Angka Stunting: Masalah gizi kronis yang membutuhkan intervensi anggaran serius.

• Krisis Infrastruktur: Ratusan kilometer jalan kabupaten dalam kondisi rusak berat.

• Pendidikan: Masih banyaknya angka anak putus sekolah dan fasilitas ruang kelas yang tidak layak.

Sebelumnya mahasiswa melakukan Aksi unjuk rasa dari ikatan mahasiswa lebak (IMALA) yang membakar “bebegig” Ketua DPRD Lebak, Juwita Wulandari, merupakan simbol memuncaknya mosi tidak percaya rakyat. Jika fungsi anggaran (budgeting) tidak lagi berpihak pada kaum papa, maka legitimasi moral DPRD Lebak telah runtuh.