Teropongistana.com JAKARTA – Kisah pilu dan penuh tekanan dialami oleh Rosse Lenny Pangaribuan (58), warga Jalan Kincir Raya No. 17, RT 02/RW 06, Kelurahan Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng. Rumahnya rusak berat diterjang angin kencang atau puting beliung pada akhir Desember 2025, namun nasib malang seolah tak berhenti. Pasca bencana, ia justru merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungan sekitar hingga oknum yang diduga merugikan harta bendanya.

Peristiwa bermula pada 28 Desember 2025. Saat hujan deras disertai angin kencang, atap lantai dua rumahnya yang terbuat dari papan tua ambruk. Barang-barang berjatuhan dan akses pintu rolling door tertutup karena tumpukan reruntuhan.

“Siangnya saya pergi dan pulang sore, berteduh dulu di Puskesmas karena hujan deras. Sesampainya di depan rumah, Warung Suyatmi dan tetangga bilang rumah saya bunyi kencang dan ada yang roboh. Benar saja, atap lantai dua ambruk karena tertiup angin,” cerita Rosse Lenny saat diwawancara, Selasa (6/4/2026)

Ditolak Berteduh, Kesulitan Cari Tempat Tinggal

Dalam kondisi panik dan rumah tak bisa ditempati, Rosse mencoba melapor dan meminta tempat berteduh sementara kepada Ketua RT 02, Ibu Maria Lingga. Namun, permohonan itu ditolak mentah-mentah.

“Saya melapor ke Ibu Maria Lingga, tapi beliau bilang tidak bisa menginap di rumahnya karena ada suami. Padahal kondisi rumah saya tidak bisa dibuka pintunya karena penuh tumpukan barang. Saya kecewa, sebagai pejabat RT masa bodoh melihat warganya kesusahan,” ungkapnya dengan nada kecewa.