Adde menambahkan, penguatan peran ini juga harus didukung dengan konsistensi pernyataan resmi yang disampaikan oleh pimpinan maupun anggota BKSAP di berbagai forum internasional.
Peran Sebagai Penengah
Ia menjelaskan, sejak awal konflik terjadi, Indonesia memang telah berupaya mengambil posisi sebagai penengah untuk mendorong perdamaian.
“Kita ingin semua negara melihat bahwa Indonesia sejak awal sudah mengusulkan diri menjadi penengah, berada di posisi tengah yang mengusung perdamaian,” ucapnya.

Adde berharap, keberadaan Indonesia dalam organisasi dunia seperti Inter-Parliamentary Union (IPU), ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), dan forum global lainnya bisa memberikan dampak nyata.
“Keberadaan Indonesia di organisasi dunia ini bukan hal murah, maka kita harus memantapkan posisi dan peran tersebut,” tambahnya.

Dorong Kelancaran Logistik
Secara konkret, Adde juga mendorong penguatan diplomasi bilateral, khususnya dengan negara-negara yang terlibat konflik. Salah satu fokus utamanya adalah memastikan kelancaran akses pelayaran.
“Kita berharap pertemuan bilateral ini bisa segera membuka akses, misalnya di Selat Hormuz, agar kapal-kapal Indonesia bisa segera melintas dengan aman dan lancar,” pungkasnya.








