“Dari masyarakat Baduy, kita belajar satu hal berharga: kemajuan dan pembangunan tidak harus merusak alam. Justru keseimbangan antara keduanya inilah yang menjadi kunci agar kehidupan berjalan berkelanjutan dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Tantangan di Tengah Arus Perubahan

Di balik keindahan dan kekayaan makna yang terkandung, tradisi ini saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang mengancam keberlangsungannya. Tekanan arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat perlahan mulai memengaruhi keberadaan adat istiadat tersebut.
Beberapa persoalan krusial yang menjadi perhatian antara lain: menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan warisan leluhur, tekanan aktivitas pembangunan yang berpotensi mengganggu kawasan adat dan tempat tinggal masyarakat Baduy, serta kurangnya pemahaman masyarakat luas terhadap makna dan nilai sesungguhnya dari tradisi ini.

Menurut Adde Rosi, jika berbagai permasalahan ini dibiarkan tanpa penanganan yang serius, maka dikhawatirkan Seba Baduy hanya akan menjadi kegiatan seremonial belaka tanpa ada makna hakiki yang dijalankan, atau bahkan semakin terlupakan seiring berjalannya waktu.
“Pelestarian budaya tidak akan berhasil jika hanya dilakukan dengan menggelar acara seremonial setiap tahunnya. Harus ada kebijakan yang nyata, perlindungan hukum yang jelas terhadap wilayah adat, serta program edukasi yang berkelanjutan agar nilai-nilai ini terus dipahami dan diamalkan,” tegasnya.

Komitmen Wakil Rakyat untuk Pelestarian Budaya
Sebagai wakil rakyat yang mewakili suara masyarakat Banten, Adde Rosi menegaskan komitmennya untuk terus berjuang melindungi dan mengembangkan kekayaan budaya daerah. Ia secara aktif mengangkat isu kearifan lokal dalam berbagai pertemuan dan forum pembahasan kebijakan di tingkat nasional, agar warisan budaya daerah mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai.
Lebih jauh, Adde Rosi melihat potensi besar yang dimiliki tradisi ini. Bukan hanya sebagai identitas kebanggaan masyarakat Banten semata, tetapi juga bisa diangkat sebagai kekuatan diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan kearifan lokal Indonesia kepada dunia internasional.
“Budaya adalah kekuatan besar yang kita miliki. Jika dikelola dengan baik, terjaga keasliannya, dan dikembangkan dengan cara yang tepat, maka ini akan menjadi kebanggaan nasional sekaligus daya tarik tersendiri yang dikenal hingga mancanegara,” ujarnya.

Adde Rosi pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda, untuk bergandengan tangan menjaga warisan ini. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi lintas sektor yang kuat.
“Mari kita jadikan Seba Baduy sebagai pengingat bahwa jati diri dan identitas bangsa kita bersumber dari kekayaan budaya yang dimiliki. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya sekarang, siapa lagi yang akan melakukannya?” pungkasnya.

Tradisi Seba Baduy adalah milik bersama seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya milik masyarakat adat atau warga Banten saja. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, peran aktif tokoh publik, serta kesadaran seluruh lapisan masyarakat, diharapkan warisan luhur ini akan terus hidup, berkembang, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang.



