Teropongistana.com Sukoharjo – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, suasana haru sekaligus harapan baru menyelimuti hati ribuan mantan pekerja PT Sri Rejeki Isman Tbk atau yang lebih akrab disebut Sritex. Bagi mereka, momen yang biasanya dirayakan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan hak-hak kaum pekerja, kali ini menjadi waktu yang tepat untuk merenung sekaligus menyampaikan aspirasi mendasar yang telah lama menggantung tanpa kejelasan.
Sebanyak 8.475 orang yang pernah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktu mereka untuk memajukan perusahaan tekstil raksasa yang berpusat di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini, hingga saat ini masih berada dalam situasi yang tidak menentu. Sejak berhentinya seluruh aktivitas operasional dan produksi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir, kehidupan mereka seolah kehilangan arah. Sumber penghidupan yang selama ini menjadi tumpuan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, hingga mempersiapkan masa depan, tiba-tiba terhenti begitu saja. Banyak di antara mereka yang kini harus berjuang mencari nafkah dengan cara yang tidak pasti, sementara nasib aset dan keberlangsungan perusahaan tempat mereka bekerja selama puluhan tahun masih belum menemukan titik terang penyelesaiannya.

Di tengah keprihatinan dan ketidakpastian yang dirasakan, harapan besar kini kembali menguat menjelang peringatan May Day 2026. Para mantan pekerja menyampaikan permohonan yang tulus kepada pemerintah pusat untuk segera turun tangan mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan yang dianggap sangat krusial ini. Menurut mereka, satu langkah strategis yang dinilai paling tepat dan mampu memberikan solusi menyeluruh adalah dengan melakukan proses pengambilalihan atau akuisisi terhadap seluruh aset dan aspek usaha Sritex.
Jika proses tersebut terealisasi, para mantan pekerja berharap perusahaan yang pernah menjadi kebanggaan industri nasional ini nantinya akan dikelola sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak khusus di sektor industri tekstil dan produk turunannya. Mereka juga menaruh harapan agar proses pengelolaan dan pengembangan ke depan dapat dilakukan melalui Danantara, lembaga pengelola investasi negara yang dibentuk pemerintah untuk mengelola aset-aset strategis milik bangsa agar lebih berdaya guna dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Mewakili seluruh aspirasi rekan-rekannya, Koordinator Forum Eks Pekerja Sritex Sukoharjo, Agus Wicaksono, menyampaikan bahwa harapan ini bukan sekadar keinginan pribadi atau kelompok semata, melainkan tuntutan yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan dan kewajiban negara untuk melindungi kepentingan rakyatnya.
“Selama puluhan tahun kami bekerja dengan penuh kesetiaan, keringat dan tenaga kami kami curahkan untuk memajukan perusahaan ini hingga menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Banyak dari kami yang menghabiskan masa muda, bahkan sampai pensiun, di sini. Jadi wajar jika kami merasa sangat kehilangan dan prihatin ketika akhirnya perusahaan ini berhenti beroperasi,” ujar Agus dengan nada penuh haru.



