Teropongistana.id Jakarta – Sekjen Matahukum, Mukhsin Nasir, memberikan komentar pedas dan pandangan tajam menyikapi kabar mundurnya dua direktur jenderal di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (KemenPKP). Menurutnya, apa yang terjadi adalah bukti nyata kegagalan manajemen kepemimpinan yang parah, di mana gaya kerja atasan justru menyiksa dan membuat stres seluruh jajaran di bawahnya.

“Informasi yang kami himpun dari sumber internal sangat jelas dan mengerikan. Banyak anak buahnya yang mengalami tekanan mental luar biasa karena dipaksa bekerja di malam hari, diajak begadang, dan harus menyesuaikan ritme kerja yang tidak manusiawi. Padahal mereka adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki hak istirahat dan jam kerja yang jelas,” ujar Mukhsin dengan nada tegas lewat pernyataanya, Senin (27/4/2026).

Ia menegaskan, memaksakan seluruh birokrasi untuk bekerja hingga dini hari hanya demi mengikuti kebiasaan pribadi sang menteri bukanlah tanda kerja keras, melainkan tanda ketidakmampuan mengatur waktu dan manajemen yang buruk.

Iklan

“Kerja sering malam dan memaksa orang lain ikut begadang itu tidak sehat. Ini bukan soal dedikasi, tapi soal kewarasan. Kalau sampai banyak pejabat tinggi yang stres dan akhirnya memilih mundur, itu artinya sistem yang dibangun sudah hancur dan tidak bisa ditoleransi lagi,” tambahnya.

Lebih jauh, Mukhsin Nasir menilai bahwa situasi di mana seorang pemimpin ditinggal oleh pasukannya satu per satu adalah tamparan keras yang sangat memalukan. Ia menyarankan agar Menteri Maruarar Sirait mengambil langkah bijak sebelum terlambat.

“Kepada Pak Maruarar Sirait, saya sarankan, lebih baik mundurkan diri sendiri dengan hormat daripada nanti harus dicopot secara tidak hormat oleh Presiden Prabowo Subianto. Malu rasanya seorang menteri negara ditinggal pembantunya karena tidak betah, tidak nyaman, dan merasa tersiksa. Itu bukti nyata bahwa kepemimpinannya gagal total,” tegasnya.