Narasumber dari BRIN, Sri Idaiani, memaparkan bahwa persoalan kesehatan mental sering kali menjadi “masalah sunyi”. Banyak kasus yang sebenarnya terjadi namun sulit tercatat secara akurat karena faktor ketakutan.
“Kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual dan upaya bunuh diri, sering kali tertutup rapat. Korban maupun keluarga cenderung merahasiakannya demi menjaga identitas. Akibatnya, data yang ada belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di masyarakat,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sri Idaiani menambahkan bahwa tekanan sekolah, kondisi mental orang tua, serta keterbatasan ekonomi turut berpengaruh besar. Oleh sebab itu, solusinya tidak bisa parsial, melainkan membutuhkan peran aktif semua pihak serta kebijakan yang berlandaskan data riset yang valid.
Harapan Lahirkan SDM Unggul

Di akhir kegiatan, Adde Rosi menyampaikan harapannya agar momen ini dapat membangkitkan kesadaran kolektif. Sinergi antara keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah harus terus diperkuat.
“Kita ingin bersama-sama menjaga keseimbangan jiwa generasi muda. Upaya ini adalah langkah nyata untuk mencetak sumber daya manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara otak, tetapi juga tangguh secara mental,” pungkasnya.




