Ia mengingatkan kembali peran strategis kapal berukuran besar. Kapal di atas 30 GT adalah tulang punggung penyediaan ikan dalam jumlah besar bagi masyarakat Indonesia. Jika mereka terhenti beroperasi karena tidak sanggup menanggung biaya bahan bakar, maka ketahanan pangan nasional di sektor kelautan akan berada dalam bahaya.
“Kalau mereka berhenti melaut karena rugi terus-menerus, jangan kaget kalau nanti pasokan ikan menipis dan harga melonjak. Ini bukan cuma masalah nelayan, tapi masalah kita semua. Pemerintah harus bertindak cepat,” pungkas Firman.

Sebelumnya, Purnomo, salah satu perwakilan nelayan di wilayah Pati, menjelaskan secara rinci betapa beratnya beban yang ditanggung saat ini. Ia menyebutkan, satu kali perjalanan melaut, kapal berukuran 30 GT ke atas membutuhkan bahan bakar dalam jumlah sangat besar.
“Untuk sekali berlayar, kami butuh sekitar 5.000 hingga 10.000 liter solar. Kalau harga sekarang Rp30.000 per liter, berarti uang untuk BBM saja sudah habis Rp150 juta sampai Rp300 juta. Belum lagi harus bayar awak kapal, beli perbekalan, dan biaya perawatan kapal. Hitung-hitungannya sudah tidak masuk akal. Akhirnya banyak dari kami memilih diam di pelabuhan daripada pulang membawa kerugian,” keluh Purnomo.



