TEROPONGISTANA.COM – Nama saya Meti Sepriyani merupakan Ibu dari seorang putri bernama Clara Novelia Zumaesa. Clara saya sekolahkan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, SMP Manba’ul Ulum. Saat ini putri saya Clara sudah duduk di kelas IX. Setahun belakangan kehidupan ekonomi keluarga kami tengah mengalami kesulitan, terlebih lagi saat terjadinya pandemi covid lalu. Yang pada akhirnya kesulitan ini berdampak pada tersendatnya biaya sekolah anak saya Clara hingga setahun terakhir.
Seorang ibu mana yang tega membiarkan putrinya berada dalam tekanan psikologis karena menunggak biaya SPP? Pun sejujurnya berbagai upaya juga terus dilakukan untuk memenuhi tunggakan biaya SPP tersebut, namun ternyata Tuhan berkendak lain. Sehingga kami belum sanggup memenuhi kewajiban kepada pihak Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang dalam hal ini SMP MANBA’UL ULUM.
Namun betapa terpukul saya sebagai ibu saat mendapat kabar putri saya Clara akan dipulangkan, sementara masa pendidikan belajarnya tinggal setahun lagi. Berita tersebut akhirnya menjadi kenyataan saat saya mendapati wajah sedih Clara pulang ke rumah dengan membawa secarik kertas atas nama Clara Novelia Zumaesa tertanggal 25 Agustus 2022 sebagai dasar pemulangannya karena tunggakan SPP yang ditandatangani Abdul Rahman Malik sebagai Kepala Sekolah dan Wakabid Kesiswaan.
Baca juga : Menuju Kemandirian, 105 Ponpes Siap Bentuk Badan Usaha Milik Pesantren
Saya menyerah dan akhirnya harus menerima kenyataan. Bahwa kesulitan ekonomi yang keluarga alami saat ini tidak akan memungkinkan untuk melunasi tunggakan SPP dalam waktu dekat, dimana tenggang waktu yang sekolah berikan hanya sampai tanggal 4 September 2022. Tetapi mirisnya, putri saya Clara masih berkemauan besar sekolah, sehingga saya putuskan untuk masuk sekolah paket B setara pendidikan SMP.


