Teropongistana.com KEDIRI – “Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara ini bukan pesantren keagamaan tapi pesantren kebangsaan. Disini akan fokus pada kesadaran berbangsa. Agar sadar kita ini berbangsa,” pesan tegas Kiai Moch. Mukhtar Mu’thi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah saat peletakan batu pertama pembangunan pesantren.
Perlu diketahui, berdekatan dengan situs Persada Bung Karno, Ndalem Pojok di lereng gunung Kelud pada 7 Juli telah dimulai pembangunan pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia Merajut Nusantra (PJDBI). Tepatnya di desa Pojok Krapak,Kecamatan Wates, Kediri inilah dua ribuan orang dari berbagai lapisan gotong royong dan hadir dalam acara yang dihadiri pula oleh Kapuspen TNI, Laksama Muda Julius Widjojono, C.H.R.M.P. mewakili Panglima TNI dan sejumlah tokoh lintas agama dan komunitas.
Menariknya warga dari beragam profesi dan agama tidak hanya hadir menyaksikan prosesi peletakan batu pertama tapi juga ikut memberikan sumbangan spontan. Mulai tenaga, pikiran bahkan dana dan material dicurahkan sejak dua minggu sebelumnya dari berbagai daerah. Bahkan sumbangan spontanitas yang digalang oleh panitia dalam tempo 30 menit terkumpul hampir 50 juta rupiah.
“Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa shodaqoh spontanitas diikuti semua yang hadir termasuk Pak Kyai Muchtar, pejabat pemerintah, Bapak Kapuspen TNI, Dandim, Kapolres, Bakesbanpol hingga kepala Desa Pojok. Alhamdulillah terkumpul 45 juta lebih kurang dari 30 menit,” kata Suhardono, SE Ketua Panitia Pembangunan Pesantren Jatidiri Bangsa.
Menurutnya gotong royong itu sungguh diluar dugaan padahal hanya dengan kardus keliling.
“Kita tidak tahu masing-masing orang menyumbang berapa. Semua sukarela, kami tidak memaksa. Ini diluar dugaan kami,” aku Suhardono.
