“Kita harus melihat fakta sejarah, bahwa Golkar partai yang dinamis dan tidak dimiliki oleh orang perorangan. Sekecil apapun riak-riak yang terjadi di Golkar bisa menggulingkan ketua umum,” kata Saiful.
Saiful menilai, kegaduhan yang dibuat Bahlil cukup beralasan, bahkan untuk menggulirkan Munaslub karena dianggap tidak kompeten dalam menjalankan roda organisasi, bahkan untuk masalah terkecil mengelola kementerian yang dipimpinnya.
Baca JugaDukung Capaian Positif Pemerintah, Aktivis Milenial: Prabowo-Gibran Serius Wujudkan Pembangunan NasionalSabtu, 15 Februari 2025“Kebijakan LPG 3 Kg yang kontroversial membuat kader Golkar ragu terhadap kepemimpinan Bahlil, sehingga wajar jika ada keinginan untuk mengganti Bahlil demi untuk menjaga marwah partai,” kata Saiful.
Sebelumnya, beredar di aplikasi berbagi pesan Whatsapp mulai Rabu 12 Februari 2025, gambar lima figur calon Ketua Umum Partai Golkar yakni Meutya Viada Hafid yang saat ini menjabat Menteri Komunikasi dan Digital.
Lalu Nusron Wahid yang menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang; Dito Ariotedjo yang menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga; serta Maman Abdurahman yang menduduki jabatan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Sumber yang diterima dari pengurus internal DPP Partai Golkar yang enggan disebutkan namanya AR mengatakan sudah ada 33 DPD Provinsi Partai Golkar, menginginkan adanya Munaslub karena di kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Golkar tidak dapat merangkul semua golongan hanya orang-orang Bahlil dan Jokowi yang berada di kepengurusan DPP partai Golkar di kepemimpinan Bahlil Lahadalia.

Banyak yang memberikan dukungan namun belum bisa memberikan dukungan secara terbuka karena takut.
” Selain itu kebijakan Bahlil Lahadalia yang melarang pengecer tidak boleh berjualan Gas 3 kg merugikan suara partai Golkar di akar rumput, ungkapnya.

Ketua umum partai Golkar Bahlil Lahadalia yang selalu bilang lahir dari anak kampung hidup pernah jadi sopir angkot namun kebijakannya malah merugikan rakyat kecil .
Kami berharap tokoh-tokoh yang mencintai partai Golkar segera mengambil sikap untuk menyelamatkan partai karena partai Golkar bukan milik Bahlil Lahadalia dan kawan-kawan melainkan Golkar milik rakyat Indonesia.





