Adapula polemik terkait jangka waktu kuliah dan riset yang hanya 1 tahun dan 7 bulan, hingga Bahlil dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Hal ini ditanggapi oleh Co-promotor distertasi Menteri Bahlil yang juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).

Menurut Teguh, Bahlil sempat bertanya kepadanya soal program S3 di UI. Ia menyarankan untuk mengambil S3 jalur riset di SKSG UI. Opsi ini lebih memungkinkan dibandingkan S3 di FEB UI yang mensyaratkan ada kuliah terstruktur di semester pertama pada hari kerja.

Teguh mengeklaim Bahlil memenuhi syarat untuk mendaftar S3 di SKSG UI karena telah lulus Magister Ilmu Ekonomi dari UNCEN pada 2009.

“Saya melihat ijazah yang ter-scan di sistem SKSG UI. Informasi di PDDIKTI mengenai BL yang dianggap mengundurkan diri kurang akurat. Bahlil telah menempuh empat semester, sesuai dengan Peraturan Rektor No. 26/2022, sehingga layak untuk maju ke tahap promosi,” dikatakanya.

Bahlil juga dinilai sudah memenuhi syarat tiga publikasi jurnal. Rinciannya, satu jurnal internasional bereputasi, satu jurnal SINTA 2, dan satu prosiding yang dapat diganti menjadi jurnal SINTA 2.

Adapun salah satu penguji Bahlil, yakni Arif Satria yang juga merupakan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), mengungkapkan, ia bersedia menjadi penguji karena diminta. Arif juga menyakini UI sebagai perguruan tinggi ternama pasti menjaga reputasi dengan sistem penjaminan mutu yang kuat.

“Saya sering menjadi penguji S3 di UI dan untuk sampai pada sidang promosi melalui tahapan panjang yang ketat. Hal ini juga disampaikan oleh pimpinan sidang kepada promotor, co promotor maupun penguji sebelum acara dimulai, bahwa sidang promosi pak Bahlil sudah sesuai prosedur di UI,” kata Ari Astriawan.