Teropongistana.com Jakarta – Indonesia tengah menghadapi tekanan ekonomi bertubi-tubi yang menuntut kewaspadaan semua pemangku kepentingan. Melemahnya rupiah terhadap dolar AS, anjloknya IHSG, dan kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menjadi kombinasi tekanan eksternal yang harus segera direspons oleh pemerintah.

Per akhir Maret 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh angka Rp17.000, level terendah dalam lebih dari setahun terakhir. Tekanan ini diperparah oleh ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Sementara itu, ketegangan geopolitik serta perlambatan perdagangan global menambah beban pada arus masuk modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga RPM Mendapat Dukungan Serius dari Aktivis AMUD Jumat, 4 April 2025
Rpm Mendapat Dukungan Serius Dari Aktivis Amud

Tidak hanya kurs rupiah, pasar saham juga terseret. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi hampir 10% sejak awal tahun. Investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke aset-aset aman seperti obligasi pemerintah AS.

Penurunan IHSG ini mencerminkan melemahnya optimisme terhadap prospek jangka pendek ekonomi domestik.Kondisi tersebut diperumit dengan kebijakan proteksionis Amerika Serikat. Pemerintahan Trump kembali memberlakukan tarif impor baru hingga 32% terhadap sejumlah produk dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Produk tekstil, hasil pertanian, dan alas kaki menjadi sektor yang paling terdampak. Pelaku ekspor nasional pun harus mencari celah baru di tengah menyempitnya akses pasar global.

Tekanan ekonomi ini menjadi ujian awal bagi pasangan presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yang akan memulai masa jabatan mereka dalam waktu dekat. Mereka membawa visi pembangunan yang berfokus pada hilirisasi industri, ketahanan pangan, serta program makan siang gratis yang ambisius. Target pertumbuhan ekonomi 5,5% dan penurunan angka kemiskinan di bawah 7% pada tahun 2029 menjadi bagian dari sasaran utama.

Namun, jalan menuju pencapaian target itu tidak akan mudah. Melemahnya rupiah secara langsung berdampak pada biaya logistik dan impor bahan baku. Ini berpotensi menghambat implementasi program makan siang gratis dan mendorong inflasi makanan. Sementara itu, ketidakpastian pasar saham dapat membuat investor ragu untuk masuk ke sektor-sektor strategis seperti energi, teknologi, dan manufaktur.