Di sisi fiskal, tekanan akan semakin nyata. Belanja negara berisiko membengkak seiring kebutuhan pembiayaan proyek sosial dan infrastruktur yang ambisius. Tanpa reformasi struktural yang mendalam dan penguatan sektor pajak, defisit anggaran bisa meluas dan menekan kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor global.
Namun demikian, peluang tetap terbuka. Pemerintah dapat memperluas kerja sama dagang dengan mitra nontradisional seperti India, Timur Tengah, dan Afrika. Di sisi domestik, penguatan produksi dalam negeri serta digitalisasi sektor usaha mikro dan kecil (UMKM) dapat menjadi kunci untuk menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat.
Yang dibutuhkan saat ini adalah sinergi antar lembaga, konsistensi arah kebijakan, dan komunikasi yang transparan kepada publik. Rakyat butuh diyakinkan bahwa pemerintah hadir dan siap menangani tantangan yang ada dengan strategi yang konkret dan terukur.
“Kita meyakini bahwa di tengah tekanan global ini, Indonesia masih memiliki modal dasar yang kuat: bonus demografi, pasar domestik yang besar, dan semangat reformasi. Yang diperlukan hanyalah komitmen nyata untuk menjaga stabilitas, memperkuat fondasi ekonomi, dan menjadikan tekanan ini sebagai katalis bagi pembenahan struktural yang telah lama ditunggu,” tutup Muhibbullah Azfa Manik.
Penulis : Muhibbullah Azfa Manik adalah dosen di Program Studi Teknik Industri, Universitas Bung Hatta.


