Tak hanya itu, pasar ini juga mengusung konsep smart market. Sistem digital akan diterapkan mulai dari e-retribusi, e-booking lapak, hingga aplikasi jual-beli online dan pelacakan harga.

Ranran Rahardja menjelaskan bahwa pembangunan pasar akan didukung melalui skema kombinasi: anggaran APBD KBB, bantuan pemerintah pusat, KPBU (Kerjasama Pemerintah-Badan Usaha), serta partisipasi BUMN/BUMD melalui CSR, seperti kemitraan dengan Bank bjb untuk layanan keuangan digital.

Pembangunan akan dilakukan dalam empat tahap, dimulai dari studi kelayakan, pembebasan lahan dan konstruksi, pengembangan zona pendukung, hingga operasional dan evaluasi dampak ekonomi-sosial.

Konsep pasar ini juga memberi porsi besar bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Sentra kuliner, showroom UMKM, hingga fasilitas pelatihan dan inkubasi akan menjadi bagian dari integrasi ekonomi kerakyatan.

“Pasar induk ini bukan hanya menjual, tapi membina. Kita ingin petani, nelayan, dan pelaku UMKM lokal tumbuh dan naik kelas,” tambahnya.

Dengan konsep yang matang dan berorientasi jangka panjang, Pasar Induk Kabupaten Bandung Barat diyakini akan menjadi katalisator baru pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.