Generasi bangsa dipaksa kehilangan imajinasi. Perbedaan diperlakukan sebagai dosa. Keberagaman dianggap sampah.

Padahal justru perbedaanlah yang menjadi warna demokrasi.

Kini kecintaan terhadap bangsa dipagari oleh tembok kekuasaan, dihuni orang-orang rakus yang hanya berpikir soal uang, bukan arah bangsa.

Dinding-dinding tebal itu menahan suara rakyat agar tak sampai ke telinga pemimpinnya.

Bahaya besar sedang berdiri di depan mata: jeritan rakyat, tangisan rakyat, bau keringat rakyat, diputus di tengah jalan.

Suara itu tak lagi masuk ke ruang kepemimpinan, tapi berhenti di kantong para lingkaran bisnis dan kepentingan. Kekecewaan rakyat pun menumpuk tanpa ujung.

Itulah tanda kemunduran. Demokrasi mati perlahan ketika pers dijerat, ketika suara publik diputus oleh kekuasaan yang menjadikan negara sebagai bisnis keluarga. Tanpa pers yang bebas, tak ada bangsa yang cerdas. Tanpa pers yang bebas, tak ada bangsa yang adil.

Dan tanpa pers yang bebas, tak akan pernah ada bangsa yang benar-benar maju.