“Sebagai organisasi perempuan muda NU, Fatayat menekankan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam menjaga kerukunan sejak dari keluarga.

Menurut Hj. Upik, perempuan menjadi pendidik pertama yang dapat menanamkan nilai toleransi, anti-kekerasan, serta kepedulian terhadap keberagaman pada generasi penerus,” kata Hj Upik di Majalengka, Selasa (9/12).

Hj. Upik yang juga Anggota Dewan Pendidikan Majalengka turut menyoroti tantangan baru di era digital, seperti maraknya hoaks, ujaran kebencian, radikalisme berbasis internet, dan polarisasi di media sosial.

Ia menilai ancaman tersebut harus direspons dengan penguatan literasi digital dan edukasi publik agar tidak mengganggu persatuan masyarakat.

Fatayat NU Majalengka, kata Hj Upik, juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi bersama FKUB melalui program-program edukasi dan pemberdayaan, mulai dari dialog lintas agama, pelatihan perempuan peacemaker, workshop moderasi beragama untuk remaja, hingga kegiatan sosial bersama serta kampanye kerukunan melalui media digital.

Menutup pernyataannya, Fatayat NU menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan FKUB dalam merawat kerukunan dan moderasi beragama.

“Kerukunan adalah investasi jangka panjang bagi Majalengka. Fatayat siap menjadi mitra FKUB dalam membangun masyarakat yang damai, moderat, dan berkeadaban,” ujar Hj. Upik.