Teropongistana.com Jakarta – Ketika dampak bencana banjir dan longsor masih menyulitkan warga, viral di media sosial sosok yang diduga Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana justru lebih memilih asyik bermain golf ditemani sejumlah caddy. Perilaku pejabat tersebut memicu kemarahan warganet dan kritik dari berbagai pihak lantaran dikaitkan dengan bencana banjir bandang, longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh.
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @lambegosiip pada Jumat, 19 Desember 2025 dengan narasi disebutkan bahwa Dadan terlihat bermain golf di tengah suasana duka akibat bencana terjadi pada akhir November lalu. Hal tersebut membuat Sekjen Matahukum Mukhsin Nasir angkat bicara.

“Saya lihat diberbagai plafon media bahwa Kepala BGN Dadan Hindayana malah beramin golf di tengah kesulitan warga menghadapi bencana banjir, longsor di Sumatera dan Aceh. Dia malah mempertontonkan sikap nirempati dan ketidakpekaan dia terhadap korban bencana. Usul saya DPR RI dan Presiden memanggil kepala BGN Dadan Hindayana dan pecat dia, sehingga publik menilai bahwa ini negara tidak main-main, yang kerja harus benar, kalau benar dapat reward, kalau tidak, wajar ada reward and punishment sebanding. Apalagi dia sempat membuat.gaduh lewat prilakunya itu,” kata Sekjen Matahukum Mukhsin Nasir lewat pernyataanya, Rabu (24/12/2025)
Lebih lanjut, Matahukum menilai dengan ketidakpekaan Kepala BGN saat benca itu, sekaligus menunjukkan ketidakpahaman mereka terhadap kondisi riil yang dialami oleh para penyintas bencana. Selain itu, kata Mukhsin, ketidakpekaan bisa jadi muncul karena Kepala BGN selama ini terlalu berorientasi pada pencitraan.

”Jadi, mindset-nya bukan peduli terhadap apa yang terjadi di masyarakat ataupun lingkungan, tetapi malah mengutamakan mana yang paling disorot atau berkompetisi demi exposure di media. Jadi, salah kaprah komunikasi publiknya dan menjadi nirempati,” jelas Mukhsin.
Menurut Mukhsin, seharusnya Kepala BGN Dadan Hindayana bisa belajar dari kemarahan publik pada akhir Agustus lalu, yang dipicu oleh buruknya komunikasi publik sejumlah pejabat dan ketidakpekaan mereka di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Kata Mukhsin, kalau ada anak-anak buah dari Presiden yang kerjanya tidak benar tentu harus ditinggalkan atau ditertibkan. Bila perlu, ganti orang karena masih banyak orang lain yang bisa mengisi dan menjalani tugas-tugas itu secara lebih baik.



