Teropongistana.com Jakarta – Partai Demokrat berada dalam posisi politik yang kian menyerupai simalakama dalam menyikapi wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD.
Di satu sisi, Demokrat tak ingin terlalu jauh berseberangan dengan partai-partai koalisi pemerintah yang tengah mengonsolidasikan kekuasaan. Namun di sisi lain, partai berlambang mercy ini juga memiliki kepentingan elektoral untuk tetap menjaga kedekatan dengan aspirasi publik.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, dilema Demokrat bukan sekadar soal teknis mekanisme pilkada, melainkan menyangkut arah besar dan konsistensi ideologis partai ke depan.
Menurutnya, Demokrat kini berada di persimpangan antara menjaga kenyamanan elite koalisi atau mempertahankan posisi sebagai partai yang masih menjual narasi demokrasi elektoral dan keberpihakan pada pemilih.

“Demokrat tidak bisa sepenuhnya melawan arus koalisi pemerintah, tapi juga tidak mungkin mengabaikan suara publik. Terlalu condong ke elite berisiko menjauhkan mereka dari basis pemilih,” ujar Arifki.
Situasi ini dinilai semakin sensitif karena Demokrat memiliki figur sentral, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang secara politik hampir “wajib” diproyeksikan sebagai calon wakil presiden atau bahkan calon presiden pada Pilpres 2029. Dalam kalkulasi tersebut, berhadapan secara frontal dengan aspirasi rakyat terutama melalui sikap yang dianggap mengurangi partisipasi publik dinilai sebagai langkah berisiko tinggi.



