Teropongistana.com JAKARTA  – Dinamika internal melanda Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) pasca-pengunduran diri Anas Urbaningrum beserta 20 pengurus Pimpinan Nasional (Pimnas) baru-baru ini. Menanggapi hal tersebut, jajaran elit PKN menilai fenomena ini sebagai bagian wajar dari siklus institusi politik dan transisi menuju kematangan organisasi.

Wakil Ketua Umum Pimnas PKN, Denny Charter, menegaskan bahwa mundurnya sejumlah kader merupakan bentuk seleksi alamiah yang justru menyehatkan bagi keberlangsungan partai jangka panjang. Menurutnya, keseragaman visi merupakan prasyarat mutlak bagi partai untuk bergerak cepat menghadapi tantangan elektoral ke depan.

“Kepergian sejumlah pengurus struktural sering kali dilihat sebagai kehilangan, padahal dalam manajemen perubahan, ruang kosong yang ditinggalkan justru membuka peluang bagi regenerasi kepemimpinan yang lebih progresif,” ujar Denny Charter dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/4/2026).

Fase “Storming” dalam Organisasi

Mengacu pada teori perkembangan kelompok Bruce Tuckman, Denny menjelaskan bahwa setiap organisasi pasti melewati fase pembentukan (forming), konflik atau dinamika internal (storming), penyesuaian norma (norming), hingga mencapai fase performa puncak (performing).

Ia menilai, perbedaan visi dan misi yang memicu pengunduran diri sejumlah pengurus adalah karakteristik klasik dari fase dinamika internal. Hal ini dipandang lebih baik daripada memelihara faksi-faksi internal yang berpotensi melahirkan friksi laten di kemudian hari.